Kamis, 30 Desember 2010

Asuhan Keperawatan Hernia Nukleus Pulposus (HNP)

ASUHAN KEPERAWATAN HERNIA NUKLEUS PULPOSUS (HNP)



A. Latarbelakang
Hernia nukleus pulposus adalah Suatu nyeri yang disebabkan oleh proses patologik dikolumna vertebralis pada diskus intervertebralis (diskogenik), juga disebut nukleus pulposus keluar menonjol untuk kemudia menekan ke arah kanalis spinalis melalui anulus fibrosis yang robek.Diskus Intervertebralis adalah lempengan kartilago yang membentuk sebuah bantalan diantara tubuh vertebra. Material yang keras dan fibrosa ini digabungkan dalam satu kapsul. Bantalan seperti bola dibagian tengah diskus disebut nukleus pulposus.
Pada kebanyakan kasus nyeri dapat terjadi pada bagian spinal manapun seperti servikal, torakal (jarang) atau lumbal. Manifestasi klinis bergantung pada lokasi, kecepatan perkembangan (akut atau kronik) dan pengaruh pada struktur disekitarnya. Nyeri punggung bawah yang berat, kronik dan berulang (kambuh).
Angka kejadi dan kesakitan banyak terjadi pada usia pertengahan. Pada umumnya HNP didahului oelh aktiivtas yang berlebihan, misalnya mengangkat beban berat (terutama mendadak) mendorong barang berat. Laki—laki lebih banyak dari pada wanita
Untuk mencapai prognosis yang baik bagi penderita, tindakan pembedahan dan pengobatan yang adekuat sangatlah penting. Oleh karena itu diagnosis banding yang akurat sangat penting, dalam manajemen intraoperasi maupun pasca operasi ataupun pengobatan dan tindakan keperawatan pada setiap kasus.











B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Dengan selesainya makalah ini diharapkan mahasiswa dapat mengelola klien dengan HNP (hernia nukleus pulposus) dan memberikan asuhan keperawatan dengan benar.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada klien dengan HNP
b. Mahasiswa mampu menganalisa masalah yang timbul pada klien degan HNP
c. Mahasiswa mampu menyusun rencana asuhan keperawatan pada klien dengan HNP
d. Mahasiswa mampu membut intervensi keperawatan pada klien dengan HNP
e. Mahasiswa mampu melakukan pengevaluasian pada klien dengan HNP






















BAB II
TINJAUAN TEORI
HERNIA NUKLEUS PULPOSUS (HNP)

A. Pengertian
Diskus Intervertebralis adalah lempengan kartilago yang membentuk sebuah bantalan diantara tubuh vertebra. Material yang keras dan fibrosa ini digabungkan dalam satu kapsul. Bantalan seperti bola dibagian tengah diskus disebut nukleus pulposus. HNP merupakan rupturnya nukleus pulposus. (Brunner & Suddarth, 2002)
Hernia Nukleus Pulposus bisa ke korpus vertebra diatas atau bawahnya, bisa juga langsung ke kanalis vertebralis. (Priguna Sidharta, 1990)

B. Patofisiologi
Protrusi atau ruptur nukleus pulposus biasanya didahului dengan perubahan degeneratif yang terjadi pada proses penuaan. Kehilangan protein polisakarida dalam diskus menurunkan kandungan air nukleus pulposus. Perkembangan pecahan yang menyebar di anulus melemahkan pertahanan pada herniasi nukleus. Setela trauma *jatuh, kecelakaan, dan stress minor berulang seperti mengangkat) kartilago dapat cedera.
Pada kebanyakan pasien, gejala trauma segera bersifat khas dan singkat, dan gejala ini disebabkan oleh cedera pada diskus yang tidak terlihat selama beberapa bulan maupun tahun. Kemudian pada degenerasi pada diskus, kapsulnya mendorong ke arah medula spinalis atau mungkin ruptur dan memungkinkan nukleus pulposus terdorong terhadap sakus dural atau terhadap saraf spinal saat muncul dari kolumna spinal.
Hernia nukleus pulposus ke kanalis vertebralis berarti bahwa nukleus pulposus menekan pada radiks yang bersama-sama dengan arteria radikularis berada dalam bungkusan dura. Hal ini terjadi kalau tempat herniasi di sisi lateral. Bilamana tempat herniasinya ditengah-tengah tidak ada radiks yang terkena. Lagipula,oleh karena pada tingkat L2 dan terus kebawah sudah tidak terdapat medula spinalis lagi, maka herniasi di garis tengah tidak akan menimbulkan kompresi pada kolumna anterior.
Setelah terjadi hernia nukleus pulposus sisa duktus intervertebralis mengalami lisis sehingga dua korpora vertebra bertumpang tindih tanpa ganjalan.

C. Manifestasi Klinis
Nyeri dapat terjadi pada bagian spinal manapun seperti servikal, torakal (jarang) atau lumbal. Manifestasi klinis bergantung pada lokasi, kecepatan perkembangan (akut atau kronik) dan pengaruh pada struktur disekitarnya. Nyeri punggung bawah yang berat, kronik dan berulang (kambuh).

D. Pemeriksaan Diagnostik
1. RO Spinal : Memperlihatkan perubahan degeneratif pada tulang belakang
2. M R I : untuk melokalisasi protrusi diskus kecil sekalipun terutama untuk penyakit spinal lumbal.
3. CT Scan dan Mielogram jika gejala klinis dan patologiknya tidak terlihat pada M R I
4. Elektromiografi (EMG) : untuk melokalisasi radiks saraf spinal khusus yang terkena.

E. Penatalaksanaan
1. Pembedahan
Tujuan : Mengurangi tekanan pada radiks saraf untuk mengurangi nyeri dan mengubah defisit neurologik.
Macam :
a. Disektomi : Mengangkat fragmen herniasi atau yang keluar dari diskus intervertebral
b. Laminektomi : Mengangkat lamina untuk memajankan elemen neural pada kanalis spinalis, memungkinkan ahli bedah untuk menginspeksi kanalis spinalis, mengidentifikasi dan mengangkat patologi dan menghilangkan kompresi medula dan radiks
c. Laminotomi : Pembagian lamina vertebra.
d. Disektomi dengan peleburan.
2. Immobilisasi
Immobilisasi dengan mengeluarkan kolor servikal, traksi, atau brace.
3. Traksi
Traksi servikal yang disertai dengan penyanggah kepala yang dikaitkan pada katrol dan beban.
4. Meredakan Nyeri
Kompres lembab panas, analgesik, sedatif, relaksan otot, obat anti inflamasi dan jika perlu kortikosteroid.

F. Pengkajian
1. Anamnesa
Keluhan utama, riwayat perawatan sekarang, Riwayat kesehatan dahulu, Riwayat kesehatan keluarga
2. Pemeriksaan Fisik
Pengkajian terhadap masalah pasien terdiri dari awitan, lokasi dan penyebaran nyeri, parestesia, keterbatasan gerak dan keterbatasan fungsi leher, bahu dan ekstremitas atas. Pengkajian pada daerah spinal servikal meliputi palpasi yang bertujuan untuk mengkaji tonus otot dan kekakuannya.
3. Pemeriksaan Penunjang


G. Diagnosa Keperawatan yang Muncul
1. Nyeri b.d Kompresi saraf, spasme otot
2. Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri, spasme otot, terapi restriktif dan kerusakan neuromuskulus
3. Ansietas b.d tidak efektifnya koping individual
4. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi mengenai kondisi, prognosis dan tindakan pengobatan.

H. Intervensi
1. Nyeri b.d kompresi saraf, spasme otot
a. Kaji keluhan nyeri, lokasi, lamanya serangan, faktor pencetus / yang memperberat. Tetapkan skala 0 – 10
b. Pertahankan tirah baring, posisi semi fowler dengan tulang spinal, pinggang dan lutut dalam keadaan fleksi, posisi telentang
c. Gunakan logroll (papan) selama melakukan perubahan posisi
d. Bantu pemasangan brace / korset
e. Batasi aktifitas selama fase akut sesuai dengan kebutuhan
f. Ajarkan teknik relaksasi
g. Kolaborasi : analgetik, traksi, fisioterapi

2. Gangguan mobilitas fisik b.d nyeri, spasme otot, terapi restriktif dan kerusakan neuromuskulus
a. Berikan / bantu pasien untuk melakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif
b. Bantu pasien dalam melakukan aktivitas ambulasi progresif
c. Berikan perawatan kulit dengan baik, masase titik yang tertekan setelah rehap perubahan posisi. Periksa keadaan kulit dibawah brace dengan periode waktu tertentu.
d. Catat respon emosi / perilaku pada immobilisasi
e. Demonstrasikan penggunaan alat penolong seperti tongkat.
f. Kolaborasi : analgetik

3. Ansietas b.d tidak efektifnya koping individual
a. Kaji tingkat ansietas pasien
b. Berikan informasi yang akurat
c. Berikan kesempatan pasien untuk mengungkapkan masalah seperti kemungkinan paralisis, pengaruh terhadap fungsi seksual, perubahan peran dan tanggung jawab.
d. Kaji adanya masalah sekunder yang mungkin merintangi keinginan untuk sembuh dan mungkin menghalangi proses penyembuhannya.
e. Libatkan keluarga

4. Kurang pengetahuan b.d kurangnya informasi mengenai kondisi, prognosis
a. Jelaskan kembali proses penyakit dan prognosis dan pembatasan kegiatan
b. Berikan informasi mengenai mekanika tubuh sendiri untuk berdiri, mengangkat dan menggunakan sepatu penyokong
c. Diskusikan mengenai pengobatan dan efek sampingnya.
d. Anjurkan untuk menggunakan papan / matras yang kuat, bantal kecil yang agak datar dibawah leher, tidur miring dengan lutut difleksikan, hindari posisi telungkup.
e. Hindari pemakaian pemanas dalam waktu yang lama
f. Berikan informasi mengenai tanda-tanda yang perlu diperhatikan seperti nyeri tusuk, kehilangan sensasi / kemampuan untuk berjalan.



DAFTAR PUSTAKA
1. Smeltzer, Suzane C, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth edisi 8 Vol 3, Jakarta : EGC, 2002
2. Doengoes, ME, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 2, Jakarta : EGC, 2000.
3. Tucker,Susan Martin,Standar Perawatan Pasien edisi 5, Jakarta : EGC, 1998.
4. Long, Barbara C, Perawatan Medikal Bedah, Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran, 1996.
5. Priguna Sidharta, Sakit Neuromuskuloskeletal dalam Praktek, Jakarta : Dian Rakyat, 1996.
6. Chusid, IG, Neuroanatomi Korelatif dan Neurologi Fungsional, Yogyakarta : Gajahmada University Press, 1993.



















I. Pathways








ÿÿÿÿ2 ÿÿÿÿar ÿÿdÿÿn ÿÿÿÿutÿÿadjustrightÿÿÿÿ2124095

































BAB III
TINJAUAN KASUS
PADA Ny,S DENGAN (HNP)

A. PENGKAJIAN
I IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. S.
Umur : 51 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Kalipang, Rembang
Pekerjaan : -
Pendidikan : SD
Penanggung jawab : Tn M
Hubungan dengan klien : Suami
Diagnosa medis : HNP
No. Rekam medis : 740869
Tanggal pengkajian : 7 november 2007


II RIWAYAT KESEHATAN
1. Keluhan utama: nyeri pinggang kanan
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Dua puluh tahun yang lalu klien merasa nyeri pinggang kanan, nyeri bertambah berat jika mengangkat beban berat. Kemudian 5 bulan yang lalu klien merasakan nyeri pinggang sampai kaki, kaki sering kesemutan, nyeri bertambah jika berjalan.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Klien mengatakan tidak pernah mengalami cedera, tidak ada riwayat hipertensi, DM dan penyakit menular dan keturunan yang lain.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit seperti pasien
III DATA DASAR
1. Pernafasan
Pasien bernafas melalui hidung, spontan, tidak ada dypsneu, tak ada takhipneu dan tak ada kesulitan dalam bernafas.
2. Sirkulasi
TD: 120/80 mmHg, tak ada pembesaran vena jugularis, tak ada takhikardi/bradhikardi
3. Nutrisi dan cairan
Diet TKTP, porsi habis, pasien tidak mengalami kesulitan dalam mengunyah dan menelan,Minum air putih, 5-6 gelas/hari
4. Eliminasi
BAB 3x/hari, konsistensi keras dan BAK 6-7x /hari, kuning jernih
5. Mobilitas dan kenyamanan
Pasien lebih banyak ditempat tidur karena nyeri pinggang kanan, kompres hangat pada punggung, Dengan begitu pasien merasa nyerinya sedikit berkurang. Pasien juga mengatakan nyeri bertambah jika berjalan..
6. Tidur dan istirahat
Tidur kurang, sering terbangun pada malam hari, karena serangan nyeri yang hebat
7. Kebersihan diri
Kebersihan diri cukup, pasien dibantu oleh suami dalam melakukan ADL
8. Komunikasi
Komunikasi tidak terganggu,.
9. Ibadah
Pasien beragama Islam dan taat dalam beribadah
10. Sosial Ekonomi:
Pasien tidak bekerja namun membantu suami megangkat hasil panen dari kebun.suami pensiun
11. Pengetahuan tentang kesehatan
Kalau sakit pasien memeriksakan diri ke dokter praktek

IV PENGKAJIAN FISIK
1. Keadaan umum
Kesadaran : compos mentis
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 88x/menit
Suhu : 36oC
RR : 24x/menit
2. Kulit : turgor baik, kebersihan cukup
3. Kepala : rambut hitam bersih, tak mudah rontok
4. Mata : pupil isokor, reflek cahaya (+), konjungtiva tidak anemis, skliera tidak icterik, tak ada gangguan dalam penglihatan
5. Telinga : simetris, tak ada serumen/sekret.
6. Hidung : tak ada polip, tak, ada sekret, tak ada pernapasan cuping hidung
7. Mulut dan tenggorok : tak ada kesulitan mengunyah, tak ada keluhan dalam menelan, Leher :, tak ada pembesaran thiroid, vena jugularis dan pembesaran limpha, kaku kuduk (-)
8. Dada : simetris, tak ada tarikan dinding dada
9. Paru : taktil fokal premitus normal, bunyi paru vesikuler
10. Jantung : tak ada pulsasi ictus cordis
11. Abdomen : simetris, tak ada distensi abdomen, tak ada nyeri tekan, peristaltik usus (+)
12. Ekstremitas:
Motorik : Gerak : terbatas
Kekuatan : 4
Tonus :
Fungsi sensorik
Baik / tidak ada gangguan
Sensibilitas :Parestesi bagian lateral paha
Reflek :Patela kanan (+), kiri (+)
Achiles kanan (+), kiri (+)

Reflek patologis
Babinski : -
Chaddok : -
Schaffer : -
Openheim : -
Gordon : -
Bing : -
Gonda : -
V DATA PENUNJANG
Laboratorium
Hb : 14,5 g/dl ( 13,5-17,5)
Ht : 41.1 % (411-53)
Leko : 9,41 (4,1-10,9)
Tromb : 301 ui (140-440)

MRI : tgl 3 Nov 2007
Interpretasi :
Diskusi 2/3, L3/4, L4/5 dan L5/S1 meonjol ke posterior
Indentasi pada thecal sac disitu
Indensitas diskus hiperintens pada T2
Corpus tampak gepeng
Peonjolan ke posterior paling nyata L4/5 pada irisan sagital
Kesimpulan : HNP multipelregio lumbal, L4/5

THERAPI
Asam mefenamat 3x500 mg
Diazepam 2x2mg













B. ANALISA DATA
DATA MASALAH PENYEBAB
DS:
Pasien mengatakan nyeri pinggang kanan.
Pasien mengatakan nyeri bertambah jika berjalan
Skala nyeri 6
DO:
Terlihat pasien lebih banyak di tempat tidur dengan posisi telentang mengurut kaki sampai pinggang


DS:
Pasien menanyakan mengapa sudah lama dirawat tapi penyakitnya tidak berkurang
DO:
Pasien dirawat selama satu bulan.
Selalu menanyakan tindakan keperawatan ataupun medis
Nyeri













Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan












Kompresi saraf













Keterbatasan kognitif















C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan kompresi saraf
2. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan keterbatasan kognitif




























D. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI
Nyeri b.d kompresi saraf




























Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b.d keterbatasan kognitif


























Tujuan : nyeri berkurang sampai ke tingkat ringan
Kriteria :
Menyatakan nyeri berkurang
Istirahat tidur cukup
Sikap rileks
Komunikasi lancar




















Tujuan: mengetahui kondisi dan kebutuhan pengobatan
Kriteria:
Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan
Perubahan gaya hidup yang tepat
Mengidentifikasi situasi stress dan metode menghadapinya











Pastikan durasi/episode masalah , siapa yang telah dikonsulkan, dan obat dan/atau terapi apa yang telah digunakan
Teliti keluhan nyeri, catat itensitasnya ( dengan skala 0-10 ), karakteristiknya (misal : berat, berdenyut, konstan) lokasinya, lamanya, faktor yang memperburuk atau meredakan.
Catat kemungkinan patofisiologi yang khas, misalnya otak/meningeal/infeksi sinus, trauma servikal, hipertensi atau trauma.
Observasi adanya tanda-tanda nyeri nonverbal, seperi : ekspresi wajah, posisi tubuh, gelisah, menangis/meringis, menarik diri, diaforesis, perubahan frekuensi jantung/pernafasan, tekanan darah.
Kaji hubungan faktor fisik/emosi dari keadaan seseorang
Evaluasi perilaku nyeri
Batasi aktifitas
Ajarkan tehnik relaksasi / distraksi
Instruksikan pasien untuk melaporkan nyeri dengan segera jika nyeri itu timbul.
Anjurkan untuk beristirahat didalam ruangan yang tenang.
Berikan kompres hangat pada area nyeri
Masase daerah nyeri


Mengkaji pengetahuan keluarga tentang sakitnya.
Memberikesempatan klien mengungkapkan perasaannya
Membantu pasien dalam mengidentifikasikan kemungkinan faktor predisposisi, seperti stress emosi,
Menjelaskan prosedur tindakan keperawatan dan tindakan pengobatan
Menjelaskan tentang efek dan kegunaan obat- obatan yang diberikan




E. IMPLEMENTASI

NO DX JAM IMPLEMENTASI RESPON KLIEN
1
























II




















I, II 7 Nov 2007
09.00






















08 Nov 2007



















9 Nov 2007 Mengkaji karakteristik nyeri. lokasi, lamanya, faktor yang memperburuk dan yang meredakan.
Mencatat adanya tanda-tanda nyeri non verbal, seperti: ekspresi wajah, posisi tubuh, menangis atau meringis, menarik diri.

Menganjurkan klien istirahat


Meberikan posisi nyaman,

Mengajarkan tehnik relaksasi


Mengompres dengan air hangat pada daerah nyeri

Menberikan terapi asmef 500mg


Mengkaji pengetahuan keluarga tentang sakitnya.


Memberikesempatan klien mengungkapkan perasaannya


Membantu pasien dalam mengidentifikasikan kemungkinan faktor predisposisi, seperti stress emosi,
Menjelaskan prosedur tindakan keperawatan dan tindakan pengobatan
Menjelaskan tentang efek dan kegunaan obat- obatan yang diberikan


Mengkaji karakteristik nyeri. lokasi, lamanya, faktor yang memperburuk dan yang meredakan.
Mencatat adanya tanda-tanda nyeri non verbal, seperti: ekspresi wajah, posisi tubuh, menangis atau meringis, menarik diri.

Menberikan terapi asmef 500mg

Membantu pasien dalam mengidentifikasikan kemungkinan faktor predisposisi, seperti stress emosi,
Menjelaskan prosedur tindakan keperawatan dan tindakan pengobatan
Menjelaskan tentang efek dan kegunaan obat- obatan yang diberikan
Menganjurkan klien untuk menghindari angkat beban berat



















S:
klien mengatakan nyeri masih dirasakan jika bergerak dan makain berat bila berjalan.
O :
klien tampak meringis kesakitan
Skala nyeri 6
Nyeri dirasakan di pinggang kanan.

O :
Klien tampak istirahat bedrest di tempat tidur
O; klien sedikit nyaman

O : klien mau mempraktekkan


S : kien mengatakan sedikit berkurang nyerinya
O : tampak sedikit rtilek
O ; asmef masuk per oral 500 mg


S ; klien mengatakan belum tau sebab penyakitnya
O; klien banyak bertanya pada perawat dan setiap tindakan
S : klien mengungkapkan kecemasannya
O ;klien mengungkapkan perasaannya
S : klien mengungkapkan cemas dengan kondisi penyakitnya
O:


S : klien memperhatikan
O : klien kooperatif

S : klien memperhatikan penjelasan dari perawat
O; klien kooperatif


S:
klien mengatakan nyeri masih dirasakan jika bergerak dan makain berat bila berjalan.
O :
klien tampak meringis kesakitan
Skala nyeri 4
Nyeri dirasakan di pinggang kanan.

O ; asmef masuk per oral 500 mg

S : klien mengungkapkan cemas dengan kondisi penyakitnya
O:


S : klien memperhatikan
O : klien kooperatif

S : klien memperhatikan penjelasan dari perawat
O; klien kooperatif
S : klien mau melaksanakan anjuran dari perawat
O ; kooperatif



F. EVALUASI
NO
DX TGL/JAM EVALUASI TTD
I














II 09 NOV 2007
13.30
WIB











13.30
WIB S: Pasien mengatakan nyeri berkurang sedikit tetapi masih dirasakan dipinggang kanan, dan makin bertambah jika bergerak

O: Klien tampak meringis kesakitan
Skala nyeri 4
Klien tiduran terus di tempat tidur.

A: Masalah teratasi sebagian

P: Lanjutkan intervensi.
Ingatkan kembali tehnik relaksasi/ distraksi
Kaji karakteristik nyeri
Kolaborasi analgatik

S: Pasien menanyakan sebenarnya sakitnya ada obatnya atau tidak.
Pasien mengatakan sudah lama sekali di RS dan sudah ingin pulang.

O: Pasien dan keluarga banyak bertanya.
Pasien dan keluarga mendengarkan penjelasan perawat dan tampak puas.

A: Masalah teratasi sebagian

P: Lanjutkan intervensi.
Yakinkan bahwa penyakit nya bisa disembuhkan dan beri dukungan moral

BAB IV
PEMBAHASAN


HNP adalah Suatu nyeri yang disebabkan oleh proses patologik dikolumna vertebralis pada diskus intervertebralis (diskogenik), juga disebut nukleus pulposus keluar menonjol untuk kemudia menekan ke arah kanalis spinalis melalui anulus fibrosis yang robek.Diskus Intervertebralis adalah lempengan kartilago yang membentuk sebuah bantalan diantara tubuh vertebra. Material yang keras dan fibrosa ini digabungkan dalam satu kapsul. Bantalan seperti bola dibagian tengah diskus disebut nukleus pulposus.
Pada kebanyakan pasien, gejala trauma segera bersifat khas dan singkat, dan gejala ini disebabkan oleh cedera pada diskus yang tidak terlihat selama beberapa bulan maupun tahun. Kemudian pada degenerasi pada diskus, kapsulnya mendorong ke arah medula spinalis atau mungkin ruptur dan memungkinkan nukleus pulposus terdorong terhadap sakus dural atau terhadap saraf spinal saat muncul dari kolumna spinal.
Pada Ny S usia 51 th telah di lakukan pemeriksaan secara keseluruhan dan di dukung data penunjang selama di rawat di Rumah Sakit dr Kariadi Semarnag pada tanggal telah di temukan HNP dengan di tandai nyeri pinggang kanan, nyeri bertambah berat jika mengangkat beban berat. Kemudian klien merasakan nyeri pinggang sampai kaki, kaki sering kesemutan, nyeri bertambah jika berjalan.
dan dari tim medis di lakukan tindakan pengobatan.di lanjutkan tindakan keperawatan di ruang BI saraf dan setelah di lakukan pengkajian keperawatan selama 3x 24 jam sehingga di dapatkan tiga masalah utama yang muncul yaitu : ganggauan rasa nyaman nyeri, kurang pengetahuan tentang prosedur pengobatan
Dari dua masalah yang muncul sehingg dari tim keperawatan di lakukan tindakan keperawatan berupa mengajarkan tehnik relaksasi dan nafas dalam untuk mengatasi nyeri, memberikan penjelasan tentang prosedur tindakan dan pengobatan,dan memberikan motivasi dukungan moral Setelah di lakukan tindakan keperawatan Selama 3 x 24 jam di dapatkan hasil evaluasi berupa : berkurangnya nyeri secara bertahap, ada peningkatan pengetahuan tentang prosedur tindakan dan pengobatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Photobucket